Gebrakan HUT ke-81! Rahasia Sukses Jateng Jadi 'Raja' Pangan Nasional, Tembus 9,39 Juta Ton!
Siapa sangka, mesin-mesin panen yang membelah hamparan sawah di Desa Gentan, Sukoharjo, kini menjadi saksi bisu kebangkitan pangan Indonesia. Di lahan seluas 264 hektare, lebih dari 100 pahlawan pangan dari Gapoktan Sari Tani sukses meraup panen lebih dari enam ton padi per hektare pada musim tanam kedua 2026 ini.
Bagi Ketua Gapoktan Desa Gentan, Joko Mursito, panen raya ini bukan cuma soal melimpahnya gabah, tapi juga bukti nyata kehadiran pemerintah yang mendengarkan keluhan petani di lapangan. "Alhamdulillah, petani Desa Gentan sangat senang karena aspirasi kami langsung ditangkap oleh Pak Gubernur. Kami merasa sangat diperhatikan," ungkap Joko.
Menjelang perayaan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, sektor pertanian memang sedang 'naik daun' di bawah komando Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen. Jawa Tengah kini bukan sekadar lumbung daerah, melainkan menjelma menjadi penopang utama ketahanan pangan nasional.
Produksi Padi Jateng Meroket Tajam Bayangkan saja, pada 2025 lalu, Jateng sukses memproduksi 9,39 juta ton gabah kering giling (GKG) dari lahan seluas 1,67 juta hektare. Angka fantastis ini menyumbang sekitar 15 persen dari total produksi pangan nasional. Artinya, beras dari keringat petani Jawa Tengah tidak hanya diam di wilayah sendiri, melainkan tersaji di meja makan keluarga dari Sabang sampai Merauke.
Tren positif ini terus digenjot pada 2026 dengan target ambisius 10,55 juta ton GKG. Hebatnya, hingga bulan Juli 2026, realisasinya sudah menyentuh angka 6,74 juta ton atau sekitar 63,43 persen dari target tahunan!
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa prestasi ini adalah hasil kerja keras petani serta sinergi pemerintah dalam menjaga luasan lahan, irigasi, dan optimalisasi
Dikawal Penuh: Dari Hulu hingga Hilir
Untuk mencapai target besar tersebut, Pemprov Jateng memastikan para petani tak berjuang sendirian. Pendampingan kelompok tani (gapoktan) dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari pemilihan
Lebih canggih lagi, Jateng kini mengusung konsep modernisasi alat pertanian terintegrasi ala "sistem sepur". Dengan dukungan mesin penanam hingga combine harvester, pekerjaan dua hektare lahan yang biasanya butuh waktu 10 hari manual kini rampung hanya dalam satu hari! Otomatis, inovasi ini menghemat tenaga dan mempercepat masa tanam kembali.
Di sisi lain, ancaman kerugian gagal panen akibat cuaca ekstrem kekeringan maupun serangan
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengingatkan bahwa kelimpahan produksi ini akan terus diikuti dengan distribusi yang merata. Surplus pangan di Jawa Tengah diharapkan mampu menjaga stabilitas harga beras secara nasional dan terus menyejahterakan para petaninya.
